Berfokus bisnis di bidang pertanian  merupakan pilihan yang tepat karena bangsa Indonesia merupakan negara agraris. Kita jangan kalah denga...

Fokus Bisnis Retail

Berfokus bisnis di bidang pertanian  merupakan pilihan yang tepat karena bangsa Indonesia merupakan negara agraris. Kita jangan kalah dengan pengusaha Qatar yang berani menancapkan kuku bisnis di Indonesia di bidang agrobisnis. Beliau sudah mendirikan beberapa hypermarket di negara-negara maju termasuk di Indonesia. Memang Bisnis retail sangat menjanjikan jika kita berpikiran besar dan mau menjadi orang besar.


Agrobisnis merupakan bisnis yang banyak ditinggalkan kaum pribumi. Hal ini disebabkan karena melihat nenek moyang yang bertahun-tahun menekuni dunia pertanian namun kehidupannya tidak maju malah identik dengan kemiskinan. Bisnis retail untuk menyalurkan hasil pertanian pun tidak terlihat kemajuannya malah terkalahkan dengan produk-produk luar negeri. Biaya produksi yang tinggi sedangkan hasil produksi menurun karena harga yang telah dibanting oleh produk luar negeri yang lebih murah menyebabkan agrobisnis di Indonesia semakin terpuruk. Melihat fenomena tersebut kita sebagai anak bangsa jangan sampai ikut-ikutan terpuruk.  Agrobisnis merupakan usaha yang menjanjikan karena kebutuhan manusia dengan pangan tidak akan habis-habisnya. Oleh karena itu kita harus mengatur strategi agar  agrobisnis di Indonesia kembali menggeliat menunjukkan cakar-cakar keberhasilan. Salah satu usaha yaitu dengan melakukan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP). 

GAP menjadi panduan umum dalam melaksanakan budidaya tanaman buah, sayur, biofarmaka, dan tanaman hias secara benar dan tepat, sehingga diperoleh produktivitas tinggi, mutu produk yang baik, keuntungan optimum, ramah lingkungan dan memperhatikan aspek keamanan, keselamatan dan kesejahteraan petani, serta usaha produksi yang berkelanjutan.. Departemen Pertanian (2008) menerangkan bahwa penerapan GAP melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang spesifik lokasi, spesifik komoditas dan spesifik sasaran pasarnya, dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan petani agar memenuhi kebutuhan konsumen dan memiliki daya saing tinggi dibandingkan dengan produk padanannya dari luar negeri. Dasar hukum penerapan GAP di Indonesia adalah Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 61/Permentan/OT.160/11/2006, tanggal 28 November 2006 untuk komoditi buah, sedangkan untuk komoditas sayuran masih dalam proses penerbitan menjadi Permentan.

Oleh karena itu penerapan GAP mendapat dukungan legal dari pemerintah pusat dan daerah karena memiliki payung hukum yang jelas. Untuk bisnis retail di bidang agrobisnis penerapan GAP sangat tepat untuk dilaksanakan.